My playlist

Senin, 08 Juni 2015

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN INTERNASIONAL

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN INTERNASIONAL
Laporan ini disusun untuk mata kuliah : Akuntansi Internasional
Dosen : Dr. Imam Subaweh, SE. AK. MM,



Disusun Oleh :

Kelompok 9

Ketua Kelompok     :  Setya Nugroho                         (29211435)

Anggota Kelompok : Syifa Farhana Fajrin              (26211999)

Tenny Ramandha Febriana   (27211073)

Vera Febryanti Anggraini     (29211013)

4EB15

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun  isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam penulisan selanjutnya.


Terima kasih kepada Dr. Imam Subaweh, SE. AK. MM, selaku dosen mata kuliah Akuntansi Internasional atas bimbingan dan arahnya.


Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.


                                                                                                                        Depok, Juni 2015
                                                                                                       

Penyusun

PENDAHULUAN

Investor , analisis riset ekuitas, manajer keuangan, bankir, dan para pengguna laporan keuangan lainnya memliki kebutuhan yang semakin besar untuk membaca dan menganalisis laporan keuang asing. Perbandingan keuangan lintas batas menjadi penting ketika melakukan analisis potensi dan kekuatan keuangan investasi asing langsung atau investasi portofolio asing. Terdapat pertumbuhan yang luar biasa dalam peneribitan dan perdagangan modal internasional pada tahun tahun terakir yang disebabkan oleh privasitisasi, pertumbuhan ekonomi, pengunduran kontrol modal dan kemajuan dalam teknologi informasi yang terus menerus terjadi.
            Kebutuhan untuk menggunakan, dan dengan demikian memahami, laporan keuangan asing juga meningkat karna kegiatan merger dan akuisisi telah semakin banyak terjadi secara internasional. Nilai marger lintas batas tumbuh secar terus menerus selama tahun 1990-an, dan pertumbuhan ini tidak menunjukkkan adanya tanda-tanda penurunan.
            Akhirnya, karna bisnis menjadi semakin global, laporan keuangan menjadi jauh lebih penting dari pada masa sebelumnya karn amenjadi dasar untuk analisis persaingan, keputusan kredit, negosiasi usaha,dan kontrol perusahaan. Pengurangan hambatan perdagangan secara terus-menerus, munculnya eropa sebagai pasar tunggal, konvergensi selera dan preferensi konsumen,dan semakin rumitnya penetrasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan terhadap pasar luar negri telah meningkatkan kompetisi bisnis multinasional secara signifikan. Semua ini menimbulkan kebutuhan lebih lanjut untuk analisis dan penilaian laporan keuangan internasional.






PELUANG DAN TANTANGAN DALAM ANALISIS LINTAS BATAS

Analisis keuangan sejumlah negara memiliki perbedaan yang sangat besar dalam praktik akuntansi, kualitas pengungkapan, sistem hukum dan undang-undang, sifat dan ruang lingkup resiko usaha, dan cara untuk menjalankan usaha. Perbedaan ini berarti alat-alat analisis yang sangat efektif disuatu wilayah menjadi kurang efektif di wilayah lain.
            Analisis dan penilaian keuangan internasional ditandai dengan banyak kontradiksi. Disatu sisi, begitu cepatnya proses harmanisasi standar akuntansi telah mengarah pada semakin meningkatnya daya banding informasi keuangan diseluruh dunia. Namun demikian, sejumlah besar perbedaan dalam praktik pelaporan keuangan masih ada.
Banyak negara, termasuk Cina, Korea, Republik Ceko, dan Rusia berupaya keras untuk memperbaiki keterseddiaan dan kualitas informasi mengenai perusahaan publik.
            Terlepas dari kontradiksi yang masih terus berlanjut, hambatan untuk analisis dan penilaian kuangan internasional semakin menurun dan pandangan para analisis secara umum masih positif. Globalisasi dan perbaikan dalam akuntansi dan pengungkapan internasional yang masih berlanjut mengaburkan perbedaan antara anaisis keuangan lintas batas dan dalam suatu wilayah. Globalisasi juga berarti analisis yang terlalu domestik menjadi semakin kurang relavan. Ketergantungan satu sama lain semakin meningkat dan tidak ada perusahaan dapat menghindar dari peristiwa yang terjadi di seluruh dunia.

KERANGKA DASAR ANALISIS USAHA
Palepu, Bernard, dan Healy membuat suatu kerangka dasar yang bermanfaat untuk analisis dan penilaian usaha dengan menggunakan data laporan keuangan.
Kerangka dasar tersebut yaitu :
1.      Analisis strategi usaha
2.      Analisis akuntansi
3.      Analisis keuangan (analisis rasio dan analisis arus kas)
4.      Analisis prospektif (peramalan dan penilaian)

I.     ANALISIS STRATEGI USAHA INTERNAIONAL
Analisis strategi usaha merupakan langkah penting pertama dalam analisis laporan keuangan. Analisis ini memberikan pemahaman kualitatif atas perusahaan dan para pesaingnya terkait dengan lingkungan ekonominya.
Prosedur standar untuk mengumpulkan informasi yang digunakan dalam analisis strategi usaha meliputi pemeriksaan laporan tahunan dan penerbitan perusahaan lainnya, dan berbicara dengan staf perusahaan, analisis dan profesional keuangan lainnya.

Ketersedian Informasi
Analisis strategi usaha sulit dilakukan khususnya di beberapa negara karna kurang andalnya informasi mengenai perkembangan makro ekonomi. Pemerintah di negara-negara maju kadang-kadang dianggap telah  menerbitkan statistik ekonomi yang keliru atau menyesatkan. Situais ini lebih  buruk di beberapa negara berkembang.
          Memperoleh informasi mengenai industri juga suka dilakukan di banyak negara dan jumlah serta kualitas informasi perusahaan sangat berbeda-beda. Ketersedian informasi khusus mengenai perusahaan sangat-sangat rendah dibanyak negara berkembang.

Rekomendasi untuk melakukan Analisis
Keterbatasan data membuat uapaya untuk melakukan analisis strategi usaha dengan menggunakan metode riset tradisional menjadi sukar dilakukan.
Dalam hal ini informasi negara dapat ditemukan dalam penerbitan “siaran internaional” yang disebarkan oleh kantor akuntans besar,bank,dan broker. Federasi Internasional Bursa Efek (FIBH,http://www.fibv.com) dan federasi Bursa Efek Eropa (FESE,http://www.fese.be) menerbitkan newsletter internasional yang sangat informatif dan majalah Accountansy, The Economist, Financial Analysts Journal, dan euromoney menyediakan banyak artikel yang sangat relavan untuk melakukan analisis keuangan inetrnasional.

Informasi mengenai negara yan tersedia bebas melalui internet

ORGANISASI
ALAMAT SITUS WEB
PENJELASAN
Departemen luar negri dan Perdagangan internasional Kanada
http://www.dfait-maeci.gc.ca/english./menu.htm
Informasi pasar
Financial Times
http://ft.com
Laporan negara(jugs lsporsn industri,berita perusahaan,dan informasi keuangan)
Political dan Economic Risk Consultancy,Ltd.(PERC)
http://www.asiarisk.com
Laporan negara secara sekilas, sambungan dengan situs WWW lainnya
UNCTAD
www.unctad.org
Data untuk analisis perdagangan internasional,komoditas,dan perkembangan investasi asing langsung
Bank sentral AS
www.federalreserve.gov
Kurs valuta asing
Departemen luar negri AS
http;//travel.state.gov
Peringatan perjalanan
Bank dunia
.org
Data pembangunan negara
Organisasi Pariwisata Dunia (World Tourism Organization)
http://www.world-tourism.org
Newsletter,siaran pers

II.                ANALISIS AKUNTANSI
Tujuan analisis akuntansi adalah untuk menganalisis sejauh mana hasil yang dilaporkan perusahaan mencerminkan realitas ekonomi. Para analisis perlu untuk mengevaluasi kebijakan dan estimasi akuntansi,serta menganalisis sifat dan ruang lingkup fleksibilitas akuntansi suatu perusahaan.
          Para manajer perusahaan diperbolehkan untuk membuat banyak pertimbangan yang terkait dengan akuntansi, karna merekalah yang tau paling banyak mengenai kondisi operasi dan keuangan perusahaan mereka.
Henly dan rekannya menyarankan proses berikut ini dalam melakukan evaluasi kulaitas akuntansi suatu perusaan :
1.      Identifikasikanlah kebijakan akuntansi utama
2.      Analisis fleksibilitas akuntansi
3.      Evaluasialah strategi pengungkapan
4.      Evaluasilah kualitas pengungkapan
5.      Identifikasikanlah potensi terjadinya masalah (seperti penghapusan aktiva dalam jumlah besar yang tidak biasanya, transaksi yang meningkatkan laba yang tidak dapat dijelaskan atau meningkatnya perbedaan antara laba yng dilaporkan perusahaan dengan arus kas dari operasi
6.      Buatlah penyesuaian atas distorsi akuntansi

Dua isu utama menjadi tantangan bagi mereka yang melakukan analisis akuntansi dalam lingkungan internasional.
Pertama adalah perbedaan antar negara dalam kualitas pengukuran, kualitas pengungkapan, dan kualitas audit.
Kedua adalah menyangkut kesulitan dalam memperoleh informasi yang diperlukan untuk melakukan analisis akuntansi.

          Perbedaan antarnegara dalam kualitas pengukiran akuntansi, pengungkapan, dan audit secara dramatis. Karakteristik nasional yang menyebabkan perbedaan ini mencakup praktik yang diwajibkan dan diterima secara umum, pengawasan dan penegakan aturan dan ruang lingkup diskresi manajemen atas pelaporan keuangan.

Saran –saran untuk Para Analisis
Teristimewa pada saat melakukan analisis teradap perusahaan-perusahaan di negara pasar berkembang, para analisis harus sesering mungkin bertemu dengan manajemen untuk mengevaluasi intensif program keuangan dan kebijakan akuntansi mereka.
Banyak perusahaaan di negara pasar berkembang yang sangat tertutup dan para manajer mungkin tidak memiliki intensif yang kuat untuk melakukan pengungkapan yang lengkap dan kredibel.
Kebijakan akuntansi di beberapa negara dapat mirip atau sama persis dengan IAS (stau standar lain yang diterima luas), tetapi manajer sering kali memiliki diskresi yang sangat besar dalam menentukan bagaimana kebijakan tersebut diterapkan.

III.        ANALISIS KEUANGAN INTERNASIONAL
Tujuan analisis keuangan adalah untuk mengevaluasi kinerja perusahaan pada masa kini dan masa lalu, dan untuk menilai apakah kinerjanya dapat dipertahankan. Analisis rasio dan analisis arus kas merupakan alat yang penting dalam melakukan analisis keuangan.

Analisis rasio
Analisis raio mencakup perbandingan rasio antara suatu perusahaan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama, perbandingan rasio perusahaan antar waktu atau dengan periode fiskal yang lain, dan atau perbandingan rasio terhadap beberapa acuan yang baku. Analisis ini memberikna masukan terhadap drajat perbandingan dan relatif pentingnya pos-pos laporan keuangan dan dapat membantu dalam mengevaluasi efektifitas kebijakan operasi, investasi, pendanaan dan retensi laba yang dimbil manajemen.

Analisis arus kas
Analisis arus kas berfokus pada laporan arus kas, yang memberikan informasi mengenai arus kas masuk dan keluar perusahaan, serta pengungkapan mengenai aktivitas investasi dan pendanaan non kas secara periodik.Analisis RasioAda dua masalah yang harus dibahas ketika melakukanan alisis rasio dalam lingkungan internasional :
a)      Apakah perbedaan lintas Negara dalam prinsip akuntansi menyebabkan perbedaan yang signifikan dalam angka-angka laporan keuangan yang dilaporkan perusahaan dari Negara yang berbeda?
b)      Seberapa jauh perbedaan dalam budaya serta kondisi persaingan dan ekonomi local memperngaruhi interpertasi ukuran akuntansi dan rasio keuangan, meskipun pengukuran akuntansi dari negeri yang berbeda disajikan ulang agar tercapai“ daya banding akuntansi”? Sejumlah bukti yang kuat menunjukkan adanya perberdaan besar antar Negara dalam profitabilitas,  pengungkit, dan rasio serta jumlah laporan keuangan lainnya yang berasal dari faktor akuntansi dan non akuntansi.
Ringkasan Rasio Keuangan

Rasio
RumusPerhitungan
I.                   Likuiditas
1.      Rasiolancar


2.      Rasio cepat atau acid test



3.      Rasio utang kas kini


Aktivalancar
Kewajiban lancar

Kas,surat berharga yang dapat diperjual belikan
Kewajiban  lancar

Kas bersih yang berasal dari kegiatan operasi
Rata-rata kewajiban lancar

II.                Efisiensi
4.      Perputaran piutang



5.      Perputaran persediaan


6.      Perputaran aktiva

Penjualan bersih
Rata-rata piutang dagang (bersih)


Harga pokok penjualan
Rata-rata persediaan

Penjualan bersih
Rata-rata jumlah aktiva

III.             Profitabilitas
7.      Margin laba atas penjualan

8.      Tingkat imbalan atas aktiva

9.      Tingkat imbalan atas ekuitas saham biasa


10.  Laba per saham



11.  Rasio pembayaran

Laba bersih
Penjualan bersih

Laba bersih
Rata-rata jumlah aktiva

Laba bersih dikurangi dividen saham preferen
Rata-rata ekuitas pemilik saham biasa

Laba bersih dikurangi dividen saham preferen
Rata-rata tertimbang saham beredar

Dividen tunai
Laba bersih
IV.             Converage
12.  Rasio utang terhadap total aktiva

13.  Times interest earned


14.  Cash debt coverage ratio


15.  Nilai buku per saham

Utang
Jumlah aktiva atau ekuitas

Laba sebelum beban bunga dan pajak
Beban bunga

Arus kas dari kegiatan operasi
Rata-rata jumlah kewajiban

Ekuitas pemegang saham biasa
Jumlah saham yang beredar

c)      Seberapa besar perbedaan dalam pos-pos laporan keuangan disebabkan oleh perbedaan prinsip-prinsip akuntansi nasional ? Ratusan perusahaan non AS yang mencatatkan saham di Bursa-bursa efek AS melakukan pengungkapan rekonsiliasi berupa catatan kaki yang memberikan bukti terhadap pernyataan ini, setidaknya dalam konteks perbedaan antara nilai akuntansi berdasarkan GAAP AS dan berdasarkan GAAP non AS.

Lima jenis perbedaan laporan keuangan yang diungkapkan oleh sejumlah besar emiten adalah:
1.    Depresiasi dana mortisasi
2.    Biaya yang ditangguhkan
3.    Pajak tangguhan
4.    Pensiun
5.    Transaksi mata uang asing

Analisis Arus Kas
Laporan arus kas yang sangat mendetail sangat diwajibkan menurut GAAP AS, GAAP Inggris, IFRS, dan standar akuntansi di sejumlah Negara yang jumlahnya semakin bertambah. Ukuran-ukuran yang berkaitan dengan arus kas sangat bermanfaat khusunya dalam analisis internasional karena tidak telalu dipengaruhi oleh perbedaan prinsip akuntansi, bila dibandingkan dengan ukuran-ukuran berbasis laba Apabila laporan arus kas tidak disajikan, sering kali ditemukan kesulitan untuk menghitung arus kas dari operasi dan ukuran arus kas lainya dengan menyelesaikan laba berbasis aktual.

Mekanisme untuk Mengatasi
Untuk mengatasi perbedaan prinsip akuntansi lintas Negara, beberapa analis menyajikan ulang ukuran akuntansi asing menurut sekelompok prinsip yang diakui secara internasional atau sesuai dengan dasar lain yang lebih umum. Beberapa yang lain mengembangkan pemahaman yang lengkap atas praktik akuntansi di sekelompok Negara tertentu dan membatasinya analisis mereka terhadap perusahaan-perusahaan yang berlokasi di Negara-negara tersebut.

IV.                ANALISIS PROSPEKTIF INTERNASIONAL
Analisis prospektif Mencakup tahap peramalan dan penilaian. Ketika melakukan peramalan para analis membuat ramalan mengenai prospek perusahaan secara eksplisit berdasarkan strategi usaha, catatan akuntansi dan analisis keuangan. Ketika melakukan penilaian, analisis mengubah ramalan kuantitatif menjadi suatu estimasi nilai perusahaan. Penilaian digunakan secara implicit maupun eksplisit dalam banyak keputusan usaha. Terdapat banyak pendekatan penilaian yang berbeda digunakan dalam praktik, mulai dari analisis arus kaster diskonto hingga teknik yang lebih sederhana yang berdasarkan perkalian berbasis harga.
Para pakar dalam melakukan penilaian internasional memberikan peringatan berikut ini kepada mereka yang melakukanan alisis prospektif internasional. Setiap aturan yang telah dipelajari di negera asal anda menjadi tidak berlaku di LN. Fluktuasi kurs, perbedaan akuntansi, perbedaan praktik, dan kebiasaan bisnis, perbedaan pasar modal, dan banyak factor lainnya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap peramalan dan penilaian internasional.
Sebagai contoh, dengan analisis arus kaster diskonto seserorang menilai suatu usaha berdasarkan nilai kini ekspekstasi arus kas yang didiskontokan sesuai dengan tingkat suku bunga yang mencerminkan tingkat resiko arus kas tersebut. Meskipun prinsip penilaian ini tidak berbeda dengan antara pasar maju dan pasar berkembang, kebanyakan variable masukan yang dianggap pada di pasar maju mungkin tidak dapat diperoleh diperekonomian yang sedang berkembang. Sebagai contoh, suku bunga obligasi pemerintah yang sering kali digunakan sebagai acuan suku bungabebas risiko, mengasumsikan bahwa pemerintah tidak akan gagal bayar, setidaknya untuk peminjaman lokal. Variabel masukan lain sperti parameter risiko dan premium pada umumnya sukar untuk diestimasikan karena sedikitnya jumlah data historis.

          Banyak database komersial menyediakan akses terhadap data keuangan dan pasar saham ribuan puluhan ribu perusahaan diseluruh dunia. Perusahaan-perusahaan yang tercakup dalam database komersial ini umumnya perusahaan besar yang laporan keuangannya menarik perhatian para pengguna dan investor.
          Sumber informasi lain yang juga berharga yaitu:
1)      Publikasi pemerintah
2)      Organisasi riset ekonomi
3)      Organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-bangsa
4)      Organisasi akuntansi, audit, dan pasar surat berharga

Ketetapan Waktu Informasi
          Ketetapan waktu laporan keunagan, laporan tahunan, laporan kepada pihak regulator, dan siaran pers yang menyangkut laporan akuntansi berbeda-beda di tiap negara. Pelaporan keuangan tiap kuartal merupakan praktek yanng lazim dilakukan di Amerika Serikat, sedangkan di tempat lain masih jaring dilakukan. Jangka waktu pelaporan keuangan juga dapay diestimasikan dengan membandingkan akhir tahun fiskal sebuah perusahaan dengan tanggal laporan auditnya. Tanggal terkhir ini dianggap sebagai tanggal indikasi kapan informasi keuangan perusahaan pertama kali tersedia untuk masyarakat umum. Di Brazil, Kanada, Chili, Kolombia, Meksiko, Philipina, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Amerika Serikat, jangka waktu pelaporan ini dilaporkan berkisar antara 30-60 hari. Sementara di Argentina, Australia, Denmark, Finlandia, Irlandia,Israel, Jepang, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Portugal, Singapura, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Swiss, Inggiris dan Zimbabwe rata-rata berkisar 61-90 hari. Di Austria, Belgia, Perancis, Jerman, Yunani, Hong Kong, India, Italia,Malaysia, Nigeria, dan Sri Lank jangka waktu informasi berkisar antara 92-120 hari. Dan untuk Pakistan, rata-rata jangka waktu melebihi 120 hari.
          Frost mencatat perbedaan internasional lebih lanjut dalam ketepatan waktu siaran pers yang menyangkut laba. Ia mendefinisikan jangka waktu sebagai rata-rata jumlah hari antara akhir tahun fiskal suat perusahaan dan tanggal siaran pers. Selang waktu ini berkisar 72 hari untuk perusahaan yang berdomisili di Prancis, 82 hari untuk perusahaan Jerman, 46 hari untuk Jepang, 72 hari untuk Inggiris, dan 26 hari untuk Amerika.
          Perbedaan dalam ketepan waktu informassi akuntansi menambah beban para pembaca laporan keuangan perusahaan asing. Beban ini semakin besar untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki lingkungan yang sentiasa berubah-ubah. Agar penilaian yang dilakukan dapat bermakna, diperlukan penyesuaian terus-menerus atas jumlah yang dilaporkan, dengan menggunakan yang konvensional ataupun tidak konvensional.

Pertimbangan Mata Uang Asing
Akun-akun yang berdenomnasi dalam mata uang asing membuat para anlis menghadapi dua jenis permasalahan. Yang pertama berkaitan dengan kemudahan pembaca, yang kedua menyangkut isi informasi.
          Sebagian besar perusahaan di seluruh dunia menetapkkan denominasi akun-akun keuangannya dalam mata uang domisili nasional mereka. Bagi seorang pembaca daru AS terbiasa dengan dolar, analisis akun-akun yang dinyatakan dalam euro dapat menimbulkan kebingungan. Jawaban yang umum untuk mengatasinya dalah dengan mentranslasikan saldo-saldo dalam mata uang asing ke dalam mata uang domestik. Namun demikian, sebagian saldo-saldo dalam mata uang asing ke dalam mata uang dmestik.namun demikian, sebagian besar laporan mata uang asing hanya menyulitkan dalam tampilanya saja. Rasio keuangan yang mengubah unit pengukuran nomonal (interval) kedalam hubungan persentase tidak berkaitan dengan mata uang. Rasio lancar yang dihitung dari neraca sebuah persahaan Belanda yang dinyatakan dalam euro akan sama saja dengan dihitung dari laporan keuangan yang sama itu setelah ditranslasikan kedalam dolar.


          
Dengan mengasumsikan bahwa kurs dolar/pound pada akhir tahun $2.10, $2.20, dan $1.60 masing-masing untuk tahun 20x4,20x5,20x6, maka resiko lancar adalah sebesar 1.5 per 1 untuk tahun 20x4, 1.6 per 1 untuk tahun 20x5 dan 1.6 per 1 untuk tahun 20x6, baik untuk laporan tang dinyatakan dalam pound Inggris atau dolar AS. Saldo dalam mata uang lokal (yaitu pound) lebih memadai apabila hendak menganalisis tran keuangan. 

          Translasi untuk kemudahan pembaca dengan menggunakan kurs pada akhir tahun yang digunakan sebelumnya (yaitu $2.10 untuk tehun 20x4, $2.20 untuk tahun 2-x5, dan $1.60 untuk tahun 20x6) menghasilkan kenaikan penjualan dalam dolar AS sebesar 7,5% [($53.056-$49.350) / $49.350)] selama periode 3 tahun tersebut. Namun demikian, kenaikan penjualan dalam pound adalah sebesar 41% [(£33.160-£23.500) / £23.500)]. 
          Terdapat sebuah pendekatan alternatif yaitu dengan mentranslasikan data-data dalam mata uang ke dalam mata uang domestik dengan menggunakan kurs pada suatu tahunan dasar. Jika saldo-saldo dalam mata uang asing dinyatakan dalam ekuivalen daya bbeli tahun dasar, maka kurs akhir tahun yang terjadi pada suatu tahun dasar harus digunakan.
          Apabila laporan yang telah ditranslasikan memberikan kemudahan bagi para pebaca dalam melihat akun-akun mata uang asing dalam suatu mata uang yang telah dikenal umum, maka dapat timbul gambaran yang sebenarnya mengalami distorsi. Secara khusus, perubahan kurs valuta asing dan prosedur akuntansi secara bersamaan sering kalo menghasilkan nilai ekuivalen dalam mata uang domestik yang bertentangan dengan peristiwa yang mendasarinya.
          Laporan keuangan konsoloodasi memperbolehkan perusahaan multinasional untuk melaporkan hasil operasinya diseluruh dunia dalam satu mata uang. Beraneka ragam metode translasi mata uang yang digunakan secara internasional.
          Untuk memberikan gambaran, laporan laba rugi, posisi keuangan, dan arus kas translasi dari sebuah perusahaan afiliasi perusahaan multinasional AS yang berada di Norwegia dapat dilihat pada Tampilan 9-5. Induk perusahaab menggunakan metode kurs kini dan menetapkan krina sebagai mata uang fungsionalnya untuk keperluan konsolidasi.
          Pengamatan sekilas terhadap laporan arus kas hasil translasi meunjukkan bahwa sumber utama kas adalah operasi (laba bersih ditambah dengan depresiasi), penerbitan utang jangka panjang dan penyesuaian translasi. Pada gilitannya, kas tersebut digunakan untuk meningkatkan investasi perusahaan dalam bentuk aktiva tetap.
Pola arus kas yang ditunjukkan pada Tampilan 9-5 berbeda dari yang dialami oleh sebuah perusahaan yang murni domestik karena adanya agregat penyesuaian translasi. Namun demikian, pengamatan terhadap komponen laporan dana hasiltranslasi ini mengungkapkan bahwa penyesuaian translasi sesungguhnnya bukanlah sumber atau sasaran penggunaan kas. Penyesuaian transalasi dihitung dengan mengalikan saldo awal aktiva bersih dalam mata uang asing dengan perubahan dalam kurs kini selama periode berjalan, dan kedua dengan mengalikan peningkatan atau penurunan dalam aktiva bersih selama periode berjalan dengan perbedaan antara kurs rata-rata dan kurs pada akhir periode. Prosedur ini dan sifat ganda persamaan akuntansi, menunjukkan bahwa komponen paling penting dalam laporan dana yang ditranslasikan adalah gabungan pengaruh translasi dan arus kas aktual.
          Perbandingan arus kas antara uang fungsional (krona) dan mata uang pelaporan (dolar) menghasilkan beberapa perbedaan yang mengejutkan. Apabila laporan arus kass dihasilkan dari laporan neraca dan laporan laba rugi yang ditranslasikan (Tampilan 9-5) menunjukkan bahwa utang jangka panjang merupakan salah satu sumber dana, maka laporan dalam krona (Tampilan 9-6) tidak menunjukkan hal yang sama. Hal yang serupa juga terlihat pada apa yang seharusnya muncul sebagai investasi dalam aktiva tetap dari sudut pandang dolar berubah menjadi fenomena translasi murni.
          Suatu analisis terhadap akun aktiva tetap mengunkapkan bahwa tidak terdapat pembelian, penjualan ayai penghapusan akun aktiva tetap selama yahun berjalan. Dengan demikian, saldo akhir tahun harusnya sama dengan nilai buku awal, $8.500.000 (Nor 85.000.000), dikurangi dengan depresiasi sebesar $555.000 (Nor 5.000.000) atau sama dengan $7.945.000. saldo akhir aktual adalah sebesar $10.640.000, yang menunjukkan bahwa seluruh kenaikan dalam aktiva tetap ($10.640.00 - $7.954.000) disebabkan oleh pengaruh kurs. Hal yang sama juga terlihat pada utang jangka panjang dalam krona Norwegia yang tidak berubah selama tahun berjalan. Karena kewajiban moneter ini ditranslasikan berdasarkan kurs nilai tukar yang direvaluasi selama tahun ini, seluruh kenaikan dalam utang jangka panjang ($6.384.000 - $4.800.000) juga ditimbulkan dari penyesuaian translasi. Analisis transaksi yang serua menunjukkan pengaruh translasi tambahan yang berkaitan dengan akun-akun modal kerja anak perusahaan Norwegia. Perhatikan bahwa jumlah seluruh pengaruh translasi yang muncul dalam Tampilan 9-6 sama dengan agregat penyesuaian translasi yang muncul dalam bagian akuitas pemegang saham neraca hasil translasi.

 

 Perbedaan dalam Format Laporan
          Format neraca dan laporan laba rugi berbeda-beda disetiap negara. Sebagai contoh, berbeda dengan di Amerika Serikat dimana kebanyakan perusahaan menggunakan format neraca dengan aktiva di sisi kiri dan klaim atas ekuitas di sisi kanan, format sebaliknya digunakan di Inggris. Contoh kedua, berbeda dengan neraca di AS yang menyajikan aktiva semakin menurun dalam urutan likuiditas dan kewajiban semakin meningkat dalam urutan tanggal jatuh tempo, di banyak negara aktiva yang paling likuid dan kewajiban dengan jangka waktu paling pendek ditempatkan di bagian bawah neraca.
          Perbedaan klasifikasi secara internasional juga cukup banyak terjadi. Sebagai contoh, akumulasi depresiasi disajikan sebagai akun kontra aktiva di Amerika Serikat. Di Jerman, aktiva yang didepresiasikan umumnya disajikan bersih dari akumulasi depresiasi, tetapi seluruh perubahan akun aktuva jangka panjang yang terjadi dalam periode berjalan langsung disajikan dalam neraca. Di banyak negara, perbedaan antara kewajiban lancar dan tidak lancar adalah satu tahun. Di jerman, perbedaan sering kali adalah 4 tahun.
          Meski menyulitkan, perbedaan format laporan keuangan tidak terlalu penting karena struktur dasar laporan keuangan cukup mirip di seluruh dunia. Dengan demikian, kebanyakn perbedaan biasanya dapat direkonsiliasikan dengan sedikit usaha.


Hambatan Bahasa dan Terminologi
          Perbedaan bahasa antarnegara dapat menimbulkan hambatan informasi bagi para-para pengguna laporan keuangan. Kebanyakan perusahaan yang berdomisil di negara- negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris menerbitkan laporan tahunannya dalam bahasa negara asal. Namun demikian, semakin banyak perusahaan yang relatif besar yang berada di perekonomian maju menyediakan laporan tahunan dalam bahasa Inggris. Perbedaan terminologi akuntansi juga daat menimbulkan kesulitan. Sebagai contoh, para pembaca di AS mengartikan isitlah stock sebagai surat berhaga yan menunjukkan kepemilikan perusahaan (saham). Di sisi lain, para pembaca di Inggris mengartikan istilah itu sebgai persediaan barang yang belum terjual milik perusahaan. Contoh lain perbedaan terminologi antara Inggris dan Amerika Serikat antara lain turnover (pendapatan penjualan) dan debtors (account receivable) dan creditor (account payable).
          Secara singkat, banyak isu-isu subtansial yang dihadapi para pengguna palaporan keuangan internasional. Mungkin isu yang paling sulit adalah yang berkaitan dengan mata uang asing dan ketersediaan dan kredibilitas informasi keuangan, kesulitan dengan mata uang asing mungkin akan menimbulkan pengaruh yang sangat besar dalam akuntansi internasional selama beberapa waktu. Sebaliknya, masalah yang berkaitan dengan ketersediaan dan kredibilitas informasi secara perahan semakin berkurang karena semakin banyak persusahaan, otoritas berwenang dan bursa efek yang mengakui pentingnya untuk memperbaiki akses investor terhadap informasi yang tepat waktu dan kredibel.


TAMPILAN PENYAJIAN ULANG LAPORAN KEUANGAN GAAP JEPANG DENGAN DASAR GAAP AS
          Dalam lampiran ini ditunjukkan bagaimana penyajian ulang GAAP dapat digunakan untuk mengurangi pengaruh keanekaragaman akuntansi. Tampilan 9-8 memuat laporan keuangan akhir tahun Toyoza Enterprises (jepang) dan Lincoln Corporation (Amerika Serikat) dengan catatan yang relevan.
          Laporan keuangan komporatif Toyoza dan Lincoln Enterprises disajikan dalam Tampilan 9-9.
          Bedasarkan anlisis awal, Toyoza dterlihat kurang likuid, kurang efisie, kurang menguntungkan dan secara keuangan kurang solven bila dibandingkan dengan Lincoln Enterprise.
          Untuk membantu dalam melakukan perbandingkan dengan Lincoln, kami menyajikan ulang laporan keuangan Toyoza ke dalam basis GAAP AS. Berdasarkan informasi tersedia dan mengamati catatan di belakanya, perlu dibuat penyesuaian-penyesuaian berikut ini:
1.      Persediaan disesuaikan untuk mencerminkan perbedaan dalam metode penentuan biaya. Penyesuaian akan meningkatkan persediaan dan mengurangi harga pokok penjualan sebesar ¥198.000
2.      Perbedaan antara metode depresiasi garis lurus dan jumlah angka tahun selama tahun berjalan menghasilkan penyesuaian terhadap harga pokok penjualan dan aktiva tetap bersih sebesar ¥46.750. perbedaan depresiasi dalam tahun sebelumnya adalah sebesar ¥140.250. berdasarkan tarif pajak marginal sebesar 35%, kenaikan sebesar ¥140.250 dalam laba sebelum pajak dilaporkan akan menimbulkan pajak tangguhan sebesar ¥49.088 dengan saldo yang dikreditkan terhadap laba ditahan.
3.      Berdasarkan GAAP AS, transaksi sewa guna usaha harus dikapitalisasikan. Dengan mendiskontokan rangkaian pembayaran sewa sebesar ¥40.000.000 untuk 5 tahun dengan bunga sebesar 8%, menghasilkan nilai kini sebesar ¥159.600.00 yang diatribusikan ke dalam aktiva sewa guna usaha. Dari jumlah ini, pembayaran sewa usaha sebesar ¥40.000.000 dapat dipisahkan menjadi pembayaran bunga sebesar ¥12.668.000 dan pengurangan atas kewajiban sewa guna usaha sebesar ¥27.232.000.
4.      Berdasarkan SFAS No 52, keuntungan translasi dipindahkan dari tang jangka panjang dan dimasukkan sebagai laba.
5.      Dibandingkan dengan GAAP AS, beban  amortisasi goodwill menjadi ¥10.800.000 lebih besar. Ayat jurnal penyesuaian dibuat untuk mengakui aktiva dan mengakui aktiva dan mengurangi beban operasi.
6.      Karena Amerika Serikat tidak memperbolehkan cadangan direksi, cadangan ini dihapuskan dan dimasukkan ke dalam laba. Cadangan ini direklasifikasikan sebagai ekuitas dan bukan sebagai utang.
7.      Penyesuaian ini, yang diringkas dalam bentuk kertas kerja dalam  tampilan 9-10 meningkatkan laba Toyoza setelah disajikan ulang sebesar  ¥220.240.00. Dari jumlah ini, sebanyak ¥20.000.000 yang berkaitan dengan keuntungan  translasi tidak diakui untuk perhitungan pajak. Hal ini menyebabkan beban pajak sebesar ¥107.822.000 dan saldo terutang saat ini sebesar ¥107.822.000


Tampilan 9-8 Laporan keuangan dan catatan terkait yang belum disesuaikan pada akhir tahun
         

Toyoza Entreprises
Lincoln Entreprises
(Ribuan ¥)
(Ribuan $)
Laporan Laba Rugi
Penjualan
¥1.400.000
$ 12.000
Beban Operasi
Harga pokok penjualan
1.200.000
10.044
penjualan dan administrasi
100.000
575
operasi lainnya
114.200
319
amortisasi goodwill

10
Laba Operasi
¥ 65.800
$1.052
Keuntungan (kkerugian)
beban bunga
28.000
130
laba sebelum pajak
37.800
922
pajak penghasilan
23.800
258
laba setelah pajak
14.000
664
bagian laba anak perusahaan yang tidak dikonsiidasikan

116
laba bersih
¥14.000
$780


Tampilan 9-8 Laporan Keuangan dan Catatan Yang Belum Terkait yang Belum Disesuaikan pada Akhir Tahun (lanjutan)
Toyoza Entreprises
Lincoln Entreprises
(Ribuan ¥)
(Ribuan $)
Neraca
Kas
 ¥ 124.500
$ 1.920
Piutang usaha, bersih
510.000
1.660
Surat berharga yang diperdagangkan
45.000
500
Persediaan
390.000
1.680
Investasi
150.000
1.000
Aktiva tetap, bersih
280.600
5.160
Goodwill
-
80
Jumlah aktiva
 ¥ 1.500.000
$ 12.000
utang dagang jangka pendek
 ¥ 165.000
$ 1.800
utang jangka pendek
25.000
2.160
pajak tangguhan
-
-
kewajiban lancar lainnya
90.000
-
utang jangka panjang cadangan
20.000
2.400
cadangan
90.000
-
modal saham
75.000
960
laba ditahan
35.000
4.680
jumlah kewajiban dan ekuitas pemilik
¥ 1.500.000
$ 12.000



Catatan atas Laporan Keuangan Toyoza
1.      Neraca dan laporan laba rugi disusun sesuai dengan Hukum Komersial Jepang dan aturan lain yang terkait.
2.      Investasi pada anak perusahaan dan perusahaan afiliasi dicatat dengan menggunakan metode ekuitas:
3.      Persediaan dicatat berdasarkan biaya rata-rata. Jika persediaan akhir disajikan ulang menjadi FIFO(MPKP), maka nilainya akan lebih tinggi sebesar ¥198 juta.
4.      Aktiva tetap dicatat sebesar harga perolehan. Depresiasi dihitung dengan menggunakan metode jumlah angka tahun, dengan pengecualian yang bersifat minor. Aktiva tetap, yang dibeli 2 tahun lalu, memiliki estimasi masa manfaat selama 4 tahun.
5.      Beban operasi mencakup pula pembayaran sewa guna usaha sebesar ¥40 juta. Rata-rata masa kontrak sewa guna usaha adalah 4 tahun. Seluruh kontrak sewa guna usaha mengalihkan kepemilikan kepada Lessor pada akhir masa sewa guna usaha. Biaya modal Toyoza Entreprises diperkirakan sebesar 8%.
6.      Keuntungan translasi sebesar ¥20 juta yang terkait konsolidasi operasi luar negeri dengan posisi kewajiban moneter bersih ditangguhkan menjadi utang jangka panjang.
7.      Goodwill yang dibeli dari pihak ketiga diamortisasi selama 20 tahun. Beban amortisasi selama periode berjalan sebesar ¥12 juta dan dikategorikan sebagai beban operasi lain-lain. Berdasarkan uji penurunan nilai menurut GAAP AS, jumlahnya hanya sebesar 10% dari total.
8.      Toyoza Enterprises diperbolekan untuk mendirikan cadangan untuk tujuan khusus (yaitu beban yang ditetapkan pemerintah terhadap laba) yang besarnya sama dengan persentase tertentu dari total pendapatan ekspor. Beban tahun ini (termasuk beban operasi lain-lain) adalah sebesar ¥26.400.000. sama halnya, tambahan terhadap cadangan untuk tujuan umum Toyoza adalah sebesar ¥30.800.000.
9.      Kurs ¥/$ pada akhir tahun adalah ¥110=$1.
10.  Tarif pajak penghasilan marginal Toyoza Enterprise adalah 35%.
Catatan atas laporan keuangan Lincoln Entreprises :
1.      Neraca dan laporan laba rugi disusun sesuai dengan GAAP AS.
2.      Persediaan dicatat berdasarkan metode biaya FIFO (MPKP).
3.      Aktiva tetap didepresiasikan dengan menggunakan metode garis lurus.
4.      Operasi luar negeri dikonsolidasikan dengan operasi induk perusahaan dengan menggunakan metode translasi mata uang temporal karena Lincoln menggunakan dolar AS sebagai mata uang fungsionalnya.

ANALISIS RASIO INTERNASIONAL
          Analisis rasio keuangan merupakan alat yang sangat baik untuk evaluasi kinerja keuangan, analisis kredit dan analisis surat berharga. Meskipun rasio keuangan dapat secara tepat mengukur likuiditas dalam perbandingan di suatu negara, sering kali rasio ini disalahgunakan ketika digunakan untuk perbandingan keuangan lintas batas, sebagian karena masalah perbedaan prinsip akuntansi. Masalah yang lebih serius adalah bahwa investor dapat salah menginterprestasikan rasio ini karena mereka tidak memahami lingkungan luar negeri, meskipun laporan keuangan telah disajikan ulang menurut satu set prinsip akuntansi yang umum.

PERTIMBANGAN LINGKUNGAN
          Perusahaaan-perusahaan jepang terlihat memilih pengungkit yang sangat tinggi. Sebagai contoh, studi terdahulu yang dilakukan oleh SEC menemukan bahwa rata-rata pengungkit (total uang/ekuitas pemegang saham) dalam sampel jepang yang diambil adalah sebesar 2,032, sedangkan untuk sampel AS sebesar 0,514. Namun demekian secara tradisional rasio utang bukanlah sumber kekhawatiran utama di jepang. Sebagian alasan nya bersifat historis.
               Pada saat pemerintah Jepang (yang berada di bawah tekanan dari amerika serikat) mengakhiri isolosasi selama 200 tahun pada pertengahan abad ke-19, Jepang telah membuat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang cepat sebagai tujuan nasional yang utama. Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah membuat infrastruktur perbankan yang luas untuk memasok kebanyakan kebutuhan pendanaan industri. Ketergantungan perusahaan-perusahaan industri terhadap sistem perbankan meningkat setelah perang dunia II. Kelompok industri baru dan besar yang disebut sebagai keiretsu berkembang dengan bank komersial utama sebagai intinya. Terhubung melalui ikatan bisnis dan pribadi, bank dan perusahaan asosiasinya sangatlah dekat. Apabila pinjaman menjadi tidak lancar, bank (sering kali) memperpanjang masa pembayaran kembali atau (kadang-kadang) mendanai kembali pinjaman tersebut. Sebuah bank bahkan dapat mengangkat seorang pegawai utama bank sebagai presiden atau anggota dewan perusahaan yang mengalami kesulitan tersebut untuk membantu penyelesaian nya.
            Perusahaan lain dalam keiretsu dapat membayar di depan piutang terhadap perusahaan yang bermasalah dan memperbolehkan periode yang lebih panjang bagi perusahaan itu untuk membayar kembali piutang nya. Dengan kemampuan untuk memanipulasi dan menunda pembayaran bunga dan pokok ini, utang jangka panjang di Jepang memiliki sifat yang lebih mirip dengan ekuitas di Amerika Serikat.
           Karena utang jangka panjang di Jepang memiliki karakteristik yang mirip dengan yang mirip dengan saham preferen, maka pembayaran bunga di Jepang dapat disetarakan dengan dividen.
          Dengan demikian,rasio cakupan bunga, yang umumnya jauh lebih rendah di Jepang dari pada di Amerika Serikat tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Laba di Jepang melampaui yang dibutuhkan agar pembayaran pinjaman mendatangkan sedikit manfaat bagi bank. Pada waktu pinjaman dinegosiasikan, peminjam membuat (dan jarang sekali mengungkapkan nya) perjanjian umum yang memberikan agunan (collateral) atau jaminan kepada bank berdasarkan permintaan bank. Juga berdasarkan permintaan bank, perusahaan peminjam harus mengajukan usulan penyisihan (apropriasi) pendapatan pada akhir tahun (termasuk dividen) kepada bank sebelum dapat diajukan kepada pemegang saham untuk disetujui. Bank umumnya menuntut saldo kompensasi meskipun tergolong tidak sah, dimana sebesar 20 hingga 50% dari pinjaman perusahaan di laporkan disimpan pada bank itu sebagai deposito berjangka (atau lainnya). Berdasarkan kondisi ini, cakupan bunga yang rendah biasanya tidak berarti risiko gagal bayar yang tinggi.
          Faktor kelembagaan dan budaya juga memengaruhi risiko keuangan yang mana rasio itu dirancang untuk dapat mengukurnya. Sebagai contoh, seorang pembaca dari Amerika yang melihat relatif rendah nya rasio kini dari perusahaan-perusahaan Jepang (sebagai akibat dari relatif tingginya utang jangka pendek) dapat menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan Jepang memiliki kemampuan yang relatif lebih rendah untuk mengatasi utang jangka pendek mereka. Namun demikian, di Jepang utang jangka pendek yang tinggi jarang sekali mengindikasikan kekurangan likuiditas. Utang jangka pendek sangat menarik bagi perusahaan karena kewajiban jangka pendek umumnya memiliki bunga yang lebih rendah dibandingkan kewajiban jangka panjang. Lagi pula, pinjaman jangka pendek di Jepang jarang sekali langsung di bayar kembali, tetapi umumnya diperbaharui atau diperpanjang. Bank senang untuk memperbaharui pinjaman ini karena memungkinkan bank untuk menyesuaikan tingkat suku bunga terhadap perubahan kondisi pasar. Dengan demikian, utang jangka pendek di Jepang memiliki sifat yang sama dengan utang jangka panjang di tempat lain. Dalam kenyataannya, penggunaan utang jangka pendek untuk mendanai aktiva jangka panjang merupakan suatu aturan, dan bukan larangan, di Jepang.
            Periode penagihan rata-rata yang lebih panjang juga mencerminkan perbedaan dalam budaya usaha. Pembelian di Jepang jarang sekali dilakukan secara tunai. Cek mundur dengan masa jatuh tempo berkisar antara 60 hingga 90 hari merupakan hal yang biasa. Tradisi Jepang atas kesempatan kerja seumur hidup juga memiliki beberapa pengaruh terhadap kebijakan penagihan. Perusahaan sering sekali berupaya keras untuk mengakomodasi pelanggan komersial mereka. Selama masa kejatuhan bisnis, perusahaan memperpanjang masa pembayaran kembali untuk menghindari menempatkan pelanggan mereka dalam ikatan keuangan yang malah mungkin memaksa mereka untuk menghentikan karyawan. Sebagai gantinya, perlindungan patron terus-menerus memastikan stabilitas lapangan kerja (dan hal-hal lainnya) bagi perusahaan penjual. Angka perputaran persediaan juga sama terpengaruhnya.
            Selama periode kurang baik, perusahaan manufaktur lebih suka untuk melanjutkan produksi dan menimbun pesediaan dari pada memiliki karyawan tanpa pekerjaan. Para manajer Jepang tidak terlalu mengkhawatirkan laba jangka pendek sebagaimana rekan-rekan mereka dari AS. Mereka lebih memiliki keamanan kerja dari pada yang ada di Amerika Serikat. Bagian ekuitas saham di perusahaan Jepang sebagian besar dimiliki oleh bank komersial, pemasok dan pelanggan yang terkait. Para pemegang saham ini lebih tertarik dalam upaya untuk mempertahankan ikatan usaha mereka dibandingkan dengan keuntungan pasar saham, dan akan memiliki saham tersebut dalam jangka panjang, dan bukan berdasarkan kinerja pasar jangka pendek.
               Para manager perusahaan di Jepang yakin bahwa kenaikan pangsa pasar akan menjamin laba jangka panjang. Karena alasan ini, pertumbuhan penjualan merupakan tujuan utama. Pertumbuhan penjualan memberikan kontribusi dalam lapangan kerja yang lebih tinggi dan keamanan kerja yang lebih baik dan konsisten dengan tradisi lapangan kerja seumur hidup. Karena seluruh perusahaan Jepang mencari pertumbuhan penjualan, kompetisi dalam harga sangat intensif, sehingga menghasilkan margin laba dan statistik profitabilitas yang rendah. Hal ini terjadi khususnya pada perusahaan besar yang bisanya menjual dalam jumlah besar pada pasar ekspor yang luar biasa kompetitif.
             Dengan demikian, apakan perusahaan-perusahaan Jepang benar-benar lebih berisiko, kurang efisien dan kurang menguntungkan bila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan AS? Tidak selalu seperti itu.
            Di Eropa, karakteristik nasional juga terlihat sanagt memengaruhi pengukuran laba.perusahaan besar di Prancis dan  Jerman cenderung lebih konservatif dalam mengukur laba dibandingkan dengan perusahaan besar di Inggris. Yang juga penting adalah undang-undang pajak dan ketergantungan akan modal kepada para kreditor dan bukan investor.


DAFTAR PUSTAKA

Frederick D.S. Choi, dan Gary K. Meek, International Accounting,Jakarta: Salemba Empat,2005.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar